Saya sangat bingung dengan kenyataan yang terjadi. Di sekolah saya
bertemu dengan banyak teman, dan mereka sungguh masih lugu, kami sering bermain
kepang-kepangan, kejar-kejaran, dan hal-hal kekanakan lainnya. Mungkin terlihat
aneh melihat anak dengan seragam putih abu-abu bermain hal-hal seperti itu.
Tapi tak dapat dipungkiri bahwa saya, Rana, Avinda, Bunga, Aditya, dan Ryan
teman-teman saya merasa sangat bahagia dapat bertemu di sekolah dan memainkan
hal-hal seperti itu.
Sekarang ini sedang marak-maraknya terdengar tentang tawuran antar
pelajar. Ketika saya mendengar bahwa salah seorang pelajar dari sekolah itu
bahkan tewas karena ditusuk senjata tajam oleh pelajar dari sekolah lain.
Di sekolah pun, saya sontak membicarakan hal itu pada teman-teman
terdekat saya, reaksi mereka lucu-lucu. Namun satu yang terlintas di kepala
saya saat itu, dimensi yang berbeda yang saya jalani di sekolah saya bersama
teman-teman lugu saya dibandingkan dengan kenyataan hidup yang harus dialami
salah seorang yang tewas karena tawuran.
Di saat saya dan teman saya tertawa terbahak-bahak dan bahkan
berteman erat dengan siswa dari sekolah lain, kami membicarakan tentang
program-program sekolah dan tersenyum satu dengan yang lainnya, namun di sisi
lain siswa satu dan yang lainnya saling membunuh.
Banyak siswa lain di sekolah saya yang mengatakan bahwa apa yang
saya dan teman-teman terdekat saya lakukan sangatlah ketinggalan zaman dan ga gaul, terkadang saya sedih mendengar
hal itu, namun saya justru sadar bahwa tugas utama saya sebagai pelajar adalah
belajar sebaik mungkin dan mencetak prestasi sebanyak mungkin.
Hiburan yang saya dapatkan dari teman-teman di sekitar saya juga
sangat menyegarkan, kami tertawa bersama, bercanda bersama dan tanpa sedikitpun
berniat untuk menyakiti satu dengan yang lainnya. Entah apa yang menyebabkan
perbedaan ini, namun saya sungguh berharap saya dan teman-teman saya dapat
bersekolah dengan damai.