Sabtu, 10 November 2012

Ulas Artikel : Uji Diksi (pemilihan kata)


NEW YORK, KOMPAS.com — Pemerintah Kota New York akhirnya membatalkan ajang tahunan maraton New York yang sedianya akan digelar pada Minggu (4/11/2012). Pembatalan ini terkait belum pulihnya kondisi kota dan penduduk yang terkena dampak badai Sandy.
"Kami tidak ingin para peserta ajang ini digelayuti mendung terkait dampak bencana badai Sandy. Oleh karenanya, kami memutuskan untuk membatalkan lomba maraton," kata Wali Kota New York Michael Bloomberg, Jumat (2/11/2012).
"Meskipun penyelenggaraan maraton ini tidak akan mengurangi sumber daya untuk upaya penanggulangan bencana, jelas bahwa ajang ini malah menjadi sumber kontroversi dan perpecahan," ujar Bloomberg.
"Kami tak bisa membiarkan kontroversi terkait sebuah ajang olahraga, mengalihkan perhatian kita dari pekerjaan yang lebih penting untuk memulihkan diri dari dampak badai, dan mengembalikan kota ini ke jalurnya," Bloomberg menegaskan.
Awalnya, pemerintah New York bersikukuh tetap akan menggelar ajang tahunan yang diperkirakan bakal menarik 20.000 pelari dari berbagai penjuru dunia itu. Namun, keputusan itu mengundang kritik dan kecaman dari berbagai pihak.
Sejauh ini belum diperoleh informasi, apakah ajang maraton New York tahun ini benar-benar dibatalkan atau sekadar dijadwalkan ulang.
Badai Sandy yang menerpa pesisir timur AS mengakibatkan setidaknya 90 orang meninggal dunia. Dari jumlah itu, lebih dari 30 orang tewas di New York.
Selain itu, sekitar tiga juta rumah, dan tempat usaha -1,2 juta berada di New York, masih belum mendapatkan pasokan listrik. 
Sumber :
Editor :
Ervan Hardoko





Kesalahan 1: Pada kata  "bersikukuh",  seharusnya bersikeras
Pada KBBI kata dasar kukuh tidak ada penambahan menjadi bersikukuh.
Kesalahan 2: meskipun kata "bersikukuh" sudah diganti menjadi bersikeras tetapi karena 

diikuti kata "tetap akan" mengakibatkan terjadinya pemborosan kata, sebaiknnya 
"tetap akan" dihilangkan atau dihapus.
Kesalahan 3: "dan tempat usaha -1,2 juta berada di New York" akan lebih baik penulisannya jika penulisannya dirubah menjadi "dan 1,2 juta tempat usaha", "di New York" tidak perlu ditambahkan karena konteks pembicaraan terfokus ke "New York"
Kesalahan 4: pada "masih belum" sebaiknya kata "masih" dihilangkan, karena tidak perlu..
berita:http://olahraga.kompas.com/read/2012/11/03/05015889/Maraton.New.York.Akhirnya.Dibatalkan
refrensi tambahan http://bbc.co.uk
kamus: http://kbbi.web.id/

Kinerja Buruk Layanan Masyarakat Terbongkar ketika Sang Gubernur Berpatroli


Saya menonton berita di TV belakangan ini. Salah satu topik menarik dan hangat yang sedang diperbincangkan adalah Jokowi, Gubernur DKI Jakarta yang baru saja menjabat beberapa minggu, melakukan sidak ke kantor-kantor pelayanan masyarakat. Pada berita-berita disampaikan bahwa ketika beliau mengunjungi satu per satu kantor pelayanan masyarakat tersebut, ternyata banyak kantor yang belum siap beroperasi padahal sudah merupakan waktunya untuk melayani. Ibu saya juga bercerita tentang apa yang terjadi di tempat kerjanya, satu yang menyita perhatian saya adalah kisah seorang kakek miskin yang tinggal di Depok yang pergi ke sebuah rumah sakit umum pemerintah di Jakarta Timur sejak pukul 5 pagi dan berharap dapat dilayani pertama ternyata baru dilayani pukul 12 siang karena dokternya baru datang. Saya berpikir, bukankah kita diberi pilihan untuk memilih pekerjaan apa yang kelak akan kita lakukan? Mengapa para pelayan masyarakat yang tentunya juga dibayar ini nampak enggan melayani masyarakat? Lalu pertanyaan yang mengiang di otak saya adalah mengapa mereka memilih pekerjaan yang sudah jelas mereka tidak bisa lakukan? Jika mereka tak punya pilihan namun mengetahui jika mereka tak bisa, mengapa tidak menolaknya saja? Astaga. 

Curhat Adik " Berburu PTN"


Setiap hari melakukan rutinitas yang sama, bangun pagi lalu pergi mencari ilmu. Melewati apa itu yang dinamakan menikmati keseharian. Semua orang di sekitar saya berlomba-lomba belajar untuk mendapatkan perguruan tinggi yang mereka inginkan. Ada yang ingin masuk ke universitas raksasa yang diingini hampir seluruh anak Indonesia, yakni Universitas Indonesia. Ada juga yang ingin menjadi mahasiswa baru universitas lainnya seperti Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan universitas-universitas raksasa yang sulit ditembus lainnya. Ketika semua orang sudah menentukan tujuan mereka masing-masing, saya hanya terdiam dan kembali melakukan rutinitas saya tanpa tahu arah dan tujuan kelak. Kenapa semua orang mau menjadi bagian dari universitas-universitas raksasa itu? Terlihat sekali jika mereka merasa cara untuk menuju sukses hanyalah dengan masuk ke universitas yang diinginkan tanpa tahu apa yang harus dilakukan jika tidak berhasil tembus atau jika kelak berhasil tembus. Namun bukan itu yang saya bingung, ada hal yang lebih membingungkan dari itu semua. Mengapa semua orang berlomba-lomba masuk ke universitas raksasa jika setelah mereka lulus mereka tetap tidak tahu dimana tempat membuang sampah yang benar? Mengapa pula semua orang berlomba-lomba masuk ke universitas raksasa jika setelah mereka lulus mereka tetap tidak tahu dimana tempat untuk memberhentikan bus kota? Setiap hari jalan yang saya tempuh dari rumah menuju sekolah tidaklah pendek, dan di sepanjang jalan acap kali saya melihat orang dengan pakaian kantoran membuang sampah sembarangan dan menunggu bus kota di sembarang tempat. Jadi, apa yang diajarkan di universitas-universitas jika lulusannya saja tidak mengerti begaimana menjalani hal-hal sepele?